Friday, 21nd Februry 2017 ;
3:00 PM, Pekanbaru
Hi, guys. Lets take a break and having
some cup of coffe cause im in good mood to tell you something. So overwhelming.
The story begin from a night to remember. Semalaman aku berpikir apa itu masa lalu. Ya aku tau, masa lalu adalah masa yang telah terlewati. Jaraknya sangat jauh. Tak peduli secepat apapun kendaraanmu tak akan mampu ia membawamu kembali ke masa lalu. Ia terlampau. Terlewati. Tergerus waktu. Dan termakan zaman. Tapi coba ingat kembali, walau sudah jauh terlampau sebagian dari mereka masih terasa nyata di kepala dan hati kita. Kadang kenangan dengan segelas kopi panas mampu membangkitkan ingatan ketika menghirup aroma kopi yang sama. Atau kenangan dengan alunan musik seolah mampu membawa kita kembali ke masa lalu ketika mendengar musik yang sama. Tak jarang beberapa manusia menghindari jenis bau-bauan atau musik tertentu untuk menghindari sakit yang kembali muncul dari masa lalu. Tapi yang masih paling ajaib menurutku adalah hujan. Ia turun dengan deras seolah memupuk kenangan untuk segera tumbuh dengan pesat. Seolah dawai deras air di genteng adalah alunan musik penyejuk meski sebagian mengatakan ia hanya suara gemuruh. Dingin nya membekukan waktu. Seolah ia tak berkutik, tak bergerak, tak berpindah, enggan maju. Menahan perasaan untuk tetap tinggal.
Apa yang istimewa dari masa lalu? Ya, karena
mereka telah terlampau. Tak terulang. Semua hanya sisa berbentuk kenangan. Sebagian
teringat jelas, sebagian samar. Sebagian utuh, sebagian hanya serpihan. Serpihan
pun kadang disapu bersih, kadang tersisa menggores kulit. Namun walau berharga,
sebagian kenangan hanya akan terlampau. Tak untuk terulang kembali. Waktu dan
kesempatan tak pernah sama. Rasa luka dan gembira juga tak pernah terasa sama
untuk kedua kalinya. Aku pernah terpikir untuk mengulang masa kanak-kanak. Terasa
bebas dalam arti sebenarnya, tapi itu dulu. Sekarang sudah beda, aku melihat
dunia dari sudut pandang yang lain. Melihatnya sebagai musuh sekaligus kawan. Teman masa kecil masih ada, tapi
pertemanan tak lagi sama, canggung tumbuh membelukar menyekat silaturahmi
antara manusia yang dulunya kecil, polos, dan bahagia yang kini telah dipenuhi
oleh angan, ambisi, dan tujuan hidup.
Hey, waktu. Bisakah kita berbicara
sejanak? Kenapa 10 tahun belakangan ini kau cepat sekali berlalu? Tidakkah kau
lelah dan ingin berhenti sejanak? Aku rindu nenek ku, teman-teman ku,
sahabat-sahabatku. Sebagian mereka telah kau renggut jarak dan hidupnya. aku
teringat seorang teman baik. Dia tidak sempurna, keluarganya tak harmonis namun
tiap nasehatnya sampai sekarang masih aku ingat. Atau kau sudah lupa dengannya?
Kau ambil hidupnya 3 tahun lalu. Dan sekarang ia menyatu dengan bumi. Tapi satu
kalimat nya yang aku dengar menyatu mengakar dalam hidupku selamanya ; “sabar itu tak terbatas, tetapi kita manusia
tak sempurna memiliki keterbatasan untuk bisa menerima sabar. Maka belajarlah
untuk memperluas sabarmu” aku 18 kala itu, 7 tahun lalu. Itu salah satu
dari sekian kata-kata terbaik yang aku ingat dari seseorang. Aku tak berharap
semuanya terulang, aku hanya berharap orang itu diselamatkan di akhirat sana
dan melewati semua nya dengan baik.
Sekolah. Ada banyak cerita jaman
sekolah selama 12 tahun itu. Walau indah, jujur aku tak mau mengulang nya. Hai kalian
para teman sekolah aku, terimakasih atas pertemanan di masa itu ya. Saat masih remaja dan yang kita pikirkan hanya masa depan semua terasa ringan. Namun saat
masa depan sudah di depan mata yang terlintas malah masa lalu.
Kuliah. Saat usia mu jauh lebih matang
kamu mulai menganggap dunia bukan lagi tempat bermain. Ia kejam dan panas. Keras
dan tua. Tapi harapan akan selalu ada. Terutama doa orang tua. Kalian para
sahabat kuliah, terimakaih atas pandangan hidup nya. Mengajarkan kemandirian
sesungguhnya. Saat tak memiliki apa-apa dan saat jarak mulai memaksa kita
bertatap melalui ponsel. Semoga kita semua mendapatkan apa yang kita cari. Aku tak
tau kalian ingin keluarga, perjalanan,
tabungan, atau apapun itu semoga semua nya tercapai dan diberkahi Tuhan. Terimakasih
telah dewasa bersama.
Dan selamat datang masa depan, tantang
kami dan cobalah sakiti dan bunuh kami. Manusia hidup karena rasa takut. Takut sakit,
takut lapar, takut kekurangan. Semua itu membuat manusia bertahan. Dan kau tau
apa? Semua mereka pun sekarang menantangmu. Kami berjuang di barisan paling depan untuk mencoba
menerkam dan membunuhmu. Salam kenal dari kami, semoga kita akrab hingga suatu
saat nanti kau kami kenal sebagai “masa lalu”. Masa dimana kalian akan menjadi
mayat yang melegenda di telinga sebagian anak cucu kami. Kami ceritakan
tentangmu, tentang keserakahanmu, dan tentang kekejamanmu supaya anak cucu
kami mampu menaklukkan anak cucu kalian. Sampai kan salam kami untuk masa lalu. Senang
pernah bersama denganmu.
Komentar
Posting Komentar