Langsung ke konten utama

Where is The Button?

Alkisah, seorang pemuda tengah memainkan game bertajuk "Life is Strange".
Game ini menceritakan tentang seorang gadis yang mempunyai kekuatan untuk mengembalikan waktu hanya dengan melihat foto. Pertama kali kekuatannya muncul ketika ia berusaha mencoba mencegah pembunuhan yang terjadi di sebuah kamar mandi di sekolahnya, di mana melibatkan teman baiknya sejak kecil (Chloe) yang tengah bertengkar dengan seorang laki-laki. Aku tidak bermaksud untuk menceritakan seluruh detail cerita dari game ini, karena pemuda yang memainkan game ini lah inti dari cerita ini.

Setelah beberapa lama ia memainkan game ini sampailah ia di bagian akhir dari game. Si pemuda harus memilih pilihan dari dua pilihan sulit. Pilihan pertama adalah menyelamatkan Arcadia Bay. Arcadia Bay adalah tempat tinggal si gadis, sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di tepian teluk, sepi, damai dan memiliki pemandangan matahari terbenam nan indah. Sekarang kota itu porak poranda karena kekacauan yang ditimbulkan oleh Max, si gadis yang punya kekuatan mengembalikan waktu. Setiap kali ia menggunakan kekuatannya tersebut, menyebabkan munculnya gejala ketidakstabilan kondisi alam, apa yang dilakukannya memiliki semacam "butterfly effect", finalnya, menyebabkan munculnya tornado yang menghancurkan seluruh kota.

Pilihan kedua adalah menyelamatkan Chloe. Chloe adalah teman baik Max sejak kecil, ia berubah semenjak ayahnya meninggal karena kecelakaan, Chloe menjadi anak perempuan yang susah diatur dan menjadi liar. Rasa bersalah tersebut yang memicu Max, berusaha memperbaiki hubungannya dengan Chloe, termasuk menggunakan kekuatannya. Setelah semua perjuangannya selama ini, Max harus memilih, mana yang harus ia selamatkan, apakah Chloe, atau Arcadia Bay.

Kembali ke si pemuda, pemuda yang sedang memainkan game adalah seseorang yang berjiwa besar, ia tentu saja akan menyelamatkan banyak orang ketimbang hanya menyelamatkan satu orang. Akhirnya sampailah pada pilihan yang harus ia pilih. Pilihannya adalah "Sacrifice Arcadia Bay" dan "Sacrifice Chloe". Dengan sigap ia langsung memilih yang pertama, yaitu "Sacrifice Arcadia Bay", ia tidak sadar bahwa arti kata "Sacrifice" adalah mengorbankan. Max harus berkorban, jadi siapa yang harus ia korbankan?

Si pemuda hanya bisa melongo, karena memilih pilihan yang tidak ia inginkan. usahanya selama ini berakhir tidak bahagia. Chloe hidup, namun Arcadia Bay hancur. Yang ia maksud adalah menyelamatkan kota si Max. Keputusan telah diambil dan tidak dapat diulang. Si pemuda tertawa, kemudian berhenti. Perih. Hatinya perih.

Si pemuda ingin mengambil hikmah dari pengalamannya, maka ia meminta siapapun untuk membantunya.
Jadi, apakah hikmah atau pelajaran yang bisa diambil dari kisah di atas?

------------------------------------------------------------------------------------------------
1. Jangan mengambil keputusan tergesa-gesa.
2. Penting memahami sesuatu dengan baik, dalam hal ini adalah bahasa.
3. Dalam setiap perjuangan selalu ada yang namanya pengorbanan.
4. ....
5. ....


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postcard From Omelas-Pt.2

Haloo... This is my second postcard . Aku mau lanjutin cerita yang kemaren . Jadi, kesan pertama nyampe tempat itu, dingin. Dingin banget. Selama dua minggu aku mandi cuma sekali sehari, sore doang . Kalo lagi kegiatan nyemplung ke kali, siangnya mandi trus nggak mandi lagi sampe besok sore, haha. Bisa pake air anget, but I'm too lazy, thats the problem.   Dan kesan pertama tinggal bareng teman-teman baru itu seru, dan satu hal yang baru aku sadar, ternyata mereka juga nggak terlalu jago ngomong inggrisnya, tapi karena dari awal aku udah ngerasa terintimidasi duluan, jadilah aku kerepotan kalo ngomong sama mereka. Tapi setelah terbiasa, dan kebetulan aku sekelompok sama dua orang dari mereka,untuk tugas harian   jadi mau nggak mau aku harus terbiasa ngomong . Tapi percayalah, english is just a language, not a measure of intelligence. Pas lagi ngomong kita bisa stop dulu, buka   google translate , kalo kita nggak tau kata-katanya, atau kalo nggak ada kuota, k...

Obrolan di Dekat Pohon Akasia

Siang itu matahari bersinar amat terik. Saking teriknya sampai aku mengira matahari seperti sedang ngambek , sampai-sampai aku tidak berani melihatnya secara langsung. Takut diludahin . Saat itu aku dan beberapa teman sekampus berjalan kaki seperti anak-anak bebek yang mengikuti induknya, walaupun matahari bersinar terik kami berjalan dengan santai dan anggun. Kami baru saja menghadiri kelas, merasa bosan kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling kampus. Dasar bodoh, pikirku. Tapi aku membuntuti mereka. Sambil berjalan di sepanjang trotoar beberapa teman terlihat saling mengobrol. Aku berjalan beriringan dengan Roro, di depanku ada Ugi yang berjalan mengikuti Nehru. Di belakangku ada Rea, Ozie dan Rubby. Perfect . Sisanya hanya orang yang kebetulan lewat, ga kenal. “Bagaimana kalau jembatan merah?” Ujar Rea . “Panas,  ah. ” “Iya.” Wajah cerah Rea langsung berubah cemberut. “Ke jembatan kupu-kupu aja, kan ada saungnya tuh” Celetuk Nehru. Aku tau maksud Nehru. Ke...

Musyrik (Menyekutukan Istri)

“Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu..“ "Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta.." “Hati ini kembali temukan senyum yang hilang..." "Semua itu karena mereka..." “Ohhh.. Tuhan...“ "Kucinta Nia..." “Kusayang Mia..." “Rindu Tia..." “Inginkan Lia..." “Hanya pada Widia..." “Untuk Ika..." Selalu tahu musyrik (menyekutukan istri) dari google. Yah, hal ini lumrah terjadi di era setelah negara ini berjuang dari orang " Gumunan ", di mana ketika mereka melihat keajaiban langsung menunduk dan ingat Tuhan, kemudian bilang Amin dan Sebarkan...!! Di tengah-tengah para mpok-mpok  yang sangat menggoda di dunia maya, juga para ayah-ayah yang lebih eksis dengan gadget-nya. Gawat! Dominasi laki-laki akan diambil alih oleh para " desaginer socmed"  yang senantiasa berpacu dengan waktu dalam menampilkan kemolekan dan keindahan wanita. Pelan. Tapi saat ini zaman menyekutukan istri akan s...