Langsung ke konten utama

Musyrik (Menyekutukan Istri)

“Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu..“
"Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta.."
“Hati ini kembali temukan senyum yang hilang..."
"Semua itu karena mereka..."
“Ohhh.. Tuhan...“
"Kucinta Nia..."
“Kusayang Mia..."
“Rindu Tia..."
“Inginkan Lia..."
“Hanya pada Widia..."
“Untuk Ika..."

Selalu tahu musyrik (menyekutukan istri) dari google. Yah, hal ini lumrah terjadi di era setelah negara ini berjuang dari orang "Gumunan", di mana ketika mereka melihat keajaiban langsung menunduk dan ingat Tuhan, kemudian bilang Amin dan Sebarkan...!! Di tengah-tengah para mpok-mpok yang sangat menggoda di dunia maya, juga para ayah-ayah yang lebih eksis dengan gadget-nya.

Gawat! Dominasi laki-laki akan diambil alih oleh para "desaginer socmed" yang senantiasa berpacu dengan waktu dalam menampilkan kemolekan dan keindahan wanita. Pelan. Tapi saat ini zaman menyekutukan istri akan segera terjadi.. eeng..ingg..eeeenggg..... Dewasa ini dunia politik yang dinamis dalam menyekutukan istri menuntut para lelaki agar lebih luwes.

Soal Mpok-mpok kita melawan,, tapi soal ciu kita kawan..Soal bumi datar kita bermusuhan, tapi soal cinta ya cuma kamu, iya kamu. :V Waspadalah para Mpok-mpok yang mulai tergerus kacantikannya, mau tidak mau kalian akan tergantikan dengan daun muda. hehehe...

Inget...! Posisi kalian rawan, Mpok. Mulailah berpacu dalam menghias diri, itung-itung bisa gugur setelah berkembang.

So, pesen Gue, biarlah dunia yang singkat ini dijadikan ajang dagelan para penyekutu istri. Tonton dan nikmati saja, buat cerita kelak saat kita ngopi di surga. (kalo masuk syurgaaa).

    

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postcard From Omelas-Pt.2

Haloo... This is my second postcard . Aku mau lanjutin cerita yang kemaren . Jadi, kesan pertama nyampe tempat itu, dingin. Dingin banget. Selama dua minggu aku mandi cuma sekali sehari, sore doang . Kalo lagi kegiatan nyemplung ke kali, siangnya mandi trus nggak mandi lagi sampe besok sore, haha. Bisa pake air anget, but I'm too lazy, thats the problem.   Dan kesan pertama tinggal bareng teman-teman baru itu seru, dan satu hal yang baru aku sadar, ternyata mereka juga nggak terlalu jago ngomong inggrisnya, tapi karena dari awal aku udah ngerasa terintimidasi duluan, jadilah aku kerepotan kalo ngomong sama mereka. Tapi setelah terbiasa, dan kebetulan aku sekelompok sama dua orang dari mereka,untuk tugas harian   jadi mau nggak mau aku harus terbiasa ngomong . Tapi percayalah, english is just a language, not a measure of intelligence. Pas lagi ngomong kita bisa stop dulu, buka   google translate , kalo kita nggak tau kata-katanya, atau kalo nggak ada kuota, k...

Obrolan di Dekat Pohon Akasia

Siang itu matahari bersinar amat terik. Saking teriknya sampai aku mengira matahari seperti sedang ngambek , sampai-sampai aku tidak berani melihatnya secara langsung. Takut diludahin . Saat itu aku dan beberapa teman sekampus berjalan kaki seperti anak-anak bebek yang mengikuti induknya, walaupun matahari bersinar terik kami berjalan dengan santai dan anggun. Kami baru saja menghadiri kelas, merasa bosan kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling kampus. Dasar bodoh, pikirku. Tapi aku membuntuti mereka. Sambil berjalan di sepanjang trotoar beberapa teman terlihat saling mengobrol. Aku berjalan beriringan dengan Roro, di depanku ada Ugi yang berjalan mengikuti Nehru. Di belakangku ada Rea, Ozie dan Rubby. Perfect . Sisanya hanya orang yang kebetulan lewat, ga kenal. “Bagaimana kalau jembatan merah?” Ujar Rea . “Panas,  ah. ” “Iya.” Wajah cerah Rea langsung berubah cemberut. “Ke jembatan kupu-kupu aja, kan ada saungnya tuh” Celetuk Nehru. Aku tau maksud Nehru. Ke...