Langsung ke konten utama

Postcards From Omelas




Halooo... this is the first time right? Ya, i know this sounds awkward but from now i’m gonna write and send many many postcards. No... you cant stop me... lol.  Anyway  this is story from me to you.

Butuh waku lama sebelum akhirnya aku menulis kata pertama, dan sampai menit ke  43 aku masih belum tau mau mulai dari mana (look how bad i’m) haha. Mungkin sebaiknya aku cerita tentang kegitan IVS aja kali yaaa... iya aja lah ya.

Jadi waktu itu sekitar bulan februari, aku ikutan IVS, awalnya nggak ada niat buat ikutan, tapi karena sesuatu dan lain hal akhirnya gabung. Dan awalnya aku nervous banget karena bakal ada teman-teman dari luar juga yang ikutan jadi pastinya ntar  ngomong pake bahasa inggris doong, dan aku adalah orang yang fakir bahasa kebingungan,  gemana ya ntar, masa mau diem-dieman aja, masa ntar aku kalo mau ngomong harus ditranslatein sama teman yang lain, jadi sebelum berangkat diam-diam aku selalu baca artikel yang bahasanya inggris, ngerti nggak ngerti  baca aja sambil pegang kamus, lumayan buat nambah vocab.

Daaann... tadaaa tibalah hari keberangkatan, kami ngumpul distasiun karena ada temen yang dari luar daerah ikut juga, jadi kita berdua sekalian jemaput dia.  Nggak berapa lama ada seorang mba dan satu lagi mas bermata sipit masuk kestasiun, tapi kami belum nyadar waktu itu, jadi dibiarin wae lalu-lalang, padahal mereka nyariin kami bertiga (yaa...  otak kami merespon sangat lambat waktu itu). Karena heran kok mereka kaya kebingungan gitu, akhirnya dicek lewat chat room. Ternyata bener itu mereka (iya aku tau garing ceritanya, biarin aja). Setelah chit chat sebentar, kenalan, akhirnya datang lagi tiga orang mba-mba dan seorang mas mas dengan tampilan serupa... putih-putih sipit-sipit, mungkin kalo difilmin  judunya jadi beauty and the kucel  kali yaa... awalnya aku pikir, mereka bakalan kaya difilm-film gitu, ngomongnya pelan, (like they need 2017 hours to finish the sentences ) but no temans, mereka ngomong dengan normal, dan dengan suara yang normal, tapi emang ada satu orang yang ngomongnya pelan, kalo bake bahasa inggris. 

Yupp... akhirnya  anggota sudah lengkap, lima pribumi (dua orang camp lead) dan lima orang lagi (satu orang camp lead) dari luar, jadi ada sepuluh orang, kami berangkat ketempat tujuan, dan itu jauuuuuhhh banget, butuh sekitar 2-3 jam sebelum akhirnya sampe. Di angkot, kita ada lima orang, dua orang pribumi dan tiga orang dari luar. Di perjalanan kami ngobrol, nggak banyak sih, soalnya masih baru. Jadi mereka nanya “udah berapa lama gabung jadi IVS?” teman aku jawab dia baru gabung, soalnya dia pengen dapat beasiswa lagi buat lanjut kuliah jadi dia butuh kegiatan-kegiatan diluar (tapi aku nggak perhatiin, takut ditanyain jugak). tapi karena kami cuma berdua, mau nggak mau aku juga ditanyain dong dan dengan pedenya aku jawab “udah setahun”, temanku kebingungan, dan mereka kaya takjub gitu kaya "waahhh udah setahun, beneran? Udah kemana aja?" Nah sekarang aku yang kebingungan... ternyata aku salah nangkep maksud mereka, (aku cuma ngerti  “how long”, dan selebihnya aku cuma berimajinasi “mungkin mereka nanyain udah berapa lama aku tinggal disini”. Hahah ya kaliii mana mereka tau aku dari luar daerah juga) seteh dijelasin  baru deh aku ngeh, (aku baru gabung sekitar seminggu yang lalu temans) dan akhirnya mereka ketawa-ketawa... karena malu, aku juga ikutan ketawa.

Bye bye...  ntar aku kirimin postcard lagi.
                                                                                                                                                                               

HAKUNA

Komentar

  1. IVS apa sih thor, kok gw googling munculnya Pokemon, mesin motor ama ivs jantung. :D

    BalasHapus
  2. IVS itu tetangganya HVS, pasti ga jauh2 dr tempat fotocopyan san :D

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postcard From Omelas-Pt.2

Haloo... This is my second postcard . Aku mau lanjutin cerita yang kemaren . Jadi, kesan pertama nyampe tempat itu, dingin. Dingin banget. Selama dua minggu aku mandi cuma sekali sehari, sore doang . Kalo lagi kegiatan nyemplung ke kali, siangnya mandi trus nggak mandi lagi sampe besok sore, haha. Bisa pake air anget, but I'm too lazy, thats the problem.   Dan kesan pertama tinggal bareng teman-teman baru itu seru, dan satu hal yang baru aku sadar, ternyata mereka juga nggak terlalu jago ngomong inggrisnya, tapi karena dari awal aku udah ngerasa terintimidasi duluan, jadilah aku kerepotan kalo ngomong sama mereka. Tapi setelah terbiasa, dan kebetulan aku sekelompok sama dua orang dari mereka,untuk tugas harian   jadi mau nggak mau aku harus terbiasa ngomong . Tapi percayalah, english is just a language, not a measure of intelligence. Pas lagi ngomong kita bisa stop dulu, buka   google translate , kalo kita nggak tau kata-katanya, atau kalo nggak ada kuota, k...

Obrolan di Dekat Pohon Akasia

Siang itu matahari bersinar amat terik. Saking teriknya sampai aku mengira matahari seperti sedang ngambek , sampai-sampai aku tidak berani melihatnya secara langsung. Takut diludahin . Saat itu aku dan beberapa teman sekampus berjalan kaki seperti anak-anak bebek yang mengikuti induknya, walaupun matahari bersinar terik kami berjalan dengan santai dan anggun. Kami baru saja menghadiri kelas, merasa bosan kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling kampus. Dasar bodoh, pikirku. Tapi aku membuntuti mereka. Sambil berjalan di sepanjang trotoar beberapa teman terlihat saling mengobrol. Aku berjalan beriringan dengan Roro, di depanku ada Ugi yang berjalan mengikuti Nehru. Di belakangku ada Rea, Ozie dan Rubby. Perfect . Sisanya hanya orang yang kebetulan lewat, ga kenal. “Bagaimana kalau jembatan merah?” Ujar Rea . “Panas,  ah. ” “Iya.” Wajah cerah Rea langsung berubah cemberut. “Ke jembatan kupu-kupu aja, kan ada saungnya tuh” Celetuk Nehru. Aku tau maksud Nehru. Ke...

Musyrik (Menyekutukan Istri)

“Di suatu hari tanpa sengaja kita bertemu..“ "Aku yang pernah terluka kembali mengenal cinta.." “Hati ini kembali temukan senyum yang hilang..." "Semua itu karena mereka..." “Ohhh.. Tuhan...“ "Kucinta Nia..." “Kusayang Mia..." “Rindu Tia..." “Inginkan Lia..." “Hanya pada Widia..." “Untuk Ika..." Selalu tahu musyrik (menyekutukan istri) dari google. Yah, hal ini lumrah terjadi di era setelah negara ini berjuang dari orang " Gumunan ", di mana ketika mereka melihat keajaiban langsung menunduk dan ingat Tuhan, kemudian bilang Amin dan Sebarkan...!! Di tengah-tengah para mpok-mpok  yang sangat menggoda di dunia maya, juga para ayah-ayah yang lebih eksis dengan gadget-nya. Gawat! Dominasi laki-laki akan diambil alih oleh para " desaginer socmed"  yang senantiasa berpacu dengan waktu dalam menampilkan kemolekan dan keindahan wanita. Pelan. Tapi saat ini zaman menyekutukan istri akan s...