Siang
itu matahari bersinar amat terik. Saking teriknya sampai aku mengira matahari
seperti sedang ngambek, sampai-sampai
aku tidak berani melihatnya secara langsung. Takut diludahin. Saat itu aku dan beberapa teman sekampus berjalan kaki seperti
anak-anak bebek yang mengikuti induknya, walaupun matahari bersinar terik kami
berjalan dengan santai dan anggun. Kami baru saja menghadiri kelas, merasa
bosan kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling kampus. Dasar bodoh,
pikirku. Tapi aku membuntuti mereka.
Sambil
berjalan di sepanjang trotoar beberapa teman terlihat saling mengobrol. Aku
berjalan beriringan dengan Roro, di depanku ada Ugi yang berjalan mengikuti
Nehru. Di belakangku ada Rea, Ozie dan Rubby. Perfect. Sisanya hanya orang yang kebetulan lewat, ga kenal.
“Bagaimana
kalau jembatan merah?” Ujar Rea .
“Panas, ah.”
“Iya.”
Wajah
cerah Rea langsung berubah cemberut.
“Ke
jembatan kupu-kupu aja, kan ada saungnya tuh”
Celetuk Nehru. Aku tau maksud Nehru. Kedua tempat tersebut, jembatan merah dan
jembatan kupu-kupu berdekatan.
“Kamu
ikut, Gik?”
“Nggak
mau.” Sahut Ugi spontan, ga mikir
kayaknya.
Nehru
terlihat menggerutu.
“Roro,
menurut kamu gimana?”
Roro
melihat ke atas, dengan gestur tangan kirinya menopang tangan kanan yang mengelus dagu. Tampak
seperti sedang berpikir. Tapi tidak juga memberi ide. Melihat ekspresinya
seperti melihat sebutir sukro yang digambarin wajah, lalu hidup.
“Tampangmu
itu loh, Ro.”
Ugi
cekikikan.
“Kita
neduh di deket kolam rektorat aja.” Ujar Ozie.
“Ada
wipi di sana kan” sambut Nehru.
“Wifi
kang, bukan wipi. W-I-F-I” tukas Ugi. “Bilang aja sekalian ke toilet, kebelet
kan?” sambungnya lagi.
“Sini, lu!” Nehru jadi berang dan berusaha menendang bokong Ugi. Tapi dasar Ugi, ia
lebih cekatan, ia sudah menghindar sebelum kena tendang. Sekarang ia berjalan
di belakang Rubby.
“Tapi
di situ kan banyak nyamuk.” Timpal Rea masih cemberut.
“Tau
kenapa banyak nyamuk?’
“Ga tau.”
“Coba
tanya Roro.” kata Ugi dari belakang. Ugi cekikikan dengan Rubby. Yang lain juga
tertawa, Roro Cuma celingukan seperti bocah nyasar.
Setelah
melewati sedikit tanjakan dan persimpangan akhirnya kami sampai di taman dekat
kolam yang kami bicarakan. Beberapa mahasiswa terlihat tersebar di penjuru
taman. Dahan-dahan pohon yang rimbun membuat suana sekitar menjadi teduh.
Dengan tambahan beberapa ornamen di sana sini membuat tempat ini menjadi salah
satu tujuan favorit mahasiswa yang ingin bersantai, mengerjakan tugas, atau
sekedar berkumpul membicarakan hal tidak penting. Seperti mereka, dan aku
tentunya. Kami memilih kursi taman yang terletak di tepi kolam, karena di situlah
yang terlihat paling memungkinkan.
Ugi
paling duluan sampai dan duduk di bangku taman. Disusul Roro, Nehru, aku dan
yang lainnya.
“Ah, panas.”
“Gerah.”
sambut Rea
“Tuh kan, coba tadi ke jembatan merah,
pasti kulitmu gosong, Re”
“Tapi
kalo Nehru emang udah item.” Ugi terus menggoda Nehru.
Nehru
diam saja.
“Ada
kopi dingin gak di sana?” tanya
Nehru. Aku menoleh ke kantin.
“Apaan?”
“Abis ngopi biasanya bikin adem kepala
yang pusing”
“Dasar
pecandu”
“Duh,
batere hapeku rada bocor, udah lowbat aja.” ujar Ugi.
“Coba
direndem air kopi Gi, tapi jangan pake gula.”
“Emang
bisa?”
“Kalo
belum gembung masih bisa” sahut Nehru seenaknya.
Sementara
itu Ozie dan Rea lebih memilih foto-foto alay di tepi kolam. Sedangkan Rubby
dan Roro ngelamunin sesuatu. Mungkin
Rubby ketularan si Roro.
“Kamu
nggak pernah baca sih, ya kan Jess?” tanya Nehru, matanya kirinya berkedip. Ah,
aku tahu.
“Beneran
Jess?” tanya Ugi
“Kafein
memang bermanfaat, Gi,” ujarku mantap dengan jempo mengacung. “Aku pernah liat
sih artikel-artikel kaya gitu, tapi belum pernah nyoba.” Ugi mengernyit. Ia terlihat
mulai terperdaya. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi rasa isengku malah
menjadi-jadi,
“Coba
Gi, siapa tau bisa.” imbuhku, amat meyakinkan. Maafin aku ya, Gi.
Tidak
lama berselang kami mulai lapar. Kami memutuskan untuk berpisah. Rubby, Ozie
dan Rea lebih dulu pergi. Kemudian Aku pun pulang ke kos, sebelum itu kuajak
Roro sekalian makan di warung Bu Emi. Sementara Nehru dan Ugi terlihat masih
membicarakan sesuatu. Pohon akasia yang berada tak jauh dari mereka terlihat iri
pada obrolan mereka.
Seminggu
kemudian aku mendengar kabar kalau Ugi membeli hape baru. Ugi, maafin aku.
*
* *
Komentar
Posting Komentar