Langsung ke konten utama

Obrolan di Dekat Pohon Akasia

Siang itu matahari bersinar amat terik. Saking teriknya sampai aku mengira matahari seperti sedang ngambek, sampai-sampai aku tidak berani melihatnya secara langsung. Takut diludahin. Saat itu aku dan beberapa teman sekampus berjalan kaki seperti anak-anak bebek yang mengikuti induknya, walaupun matahari bersinar terik kami berjalan dengan santai dan anggun. Kami baru saja menghadiri kelas, merasa bosan kami pun memutuskan untuk berjalan berkeliling kampus. Dasar bodoh, pikirku. Tapi aku membuntuti mereka.

Sambil berjalan di sepanjang trotoar beberapa teman terlihat saling mengobrol. Aku berjalan beriringan dengan Roro, di depanku ada Ugi yang berjalan mengikuti Nehru. Di belakangku ada Rea, Ozie dan Rubby. Perfect. Sisanya hanya orang yang kebetulan lewat, ga kenal.
“Bagaimana kalau jembatan merah?” Ujar Rea .
“Panas, ah.
“Iya.”
Wajah cerah Rea langsung berubah cemberut.
“Ke jembatan kupu-kupu aja, kan ada saungnya tuh” Celetuk Nehru. Aku tau maksud Nehru. Kedua tempat tersebut, jembatan merah dan jembatan kupu-kupu berdekatan.
“Kamu ikut, Gik?”
“Nggak mau.” Sahut Ugi spontan, ga mikir kayaknya.
Nehru terlihat menggerutu.
“Roro, menurut kamu gimana?
Roro melihat ke atas, dengan gestur tangan kirinya menopang tangan kanan yang mengelus dagu. Tampak seperti sedang berpikir. Tapi tidak juga memberi ide. Melihat ekspresinya seperti melihat sebutir sukro yang digambarin wajah, lalu hidup.
“Tampangmu itu loh, Ro.”
Ugi cekikikan.
“Kita neduh di deket kolam rektorat aja.” Ujar Ozie.
“Ada wipi di sana kan” sambut Nehru.
“Wifi kang, bukan wipi. W-I-F-I” tukas Ugi. “Bilang aja sekalian ke toilet, kebelet kan?” sambungnya lagi.
“Sini, lu!” Nehru jadi berang dan berusaha menendang bokong Ugi. Tapi dasar Ugi, ia lebih cekatan, ia sudah menghindar sebelum kena tendang. Sekarang ia berjalan di belakang Rubby.
“Tapi di situ kan banyak nyamuk.” Timpal Rea masih cemberut.
“Tau kenapa banyak nyamuk?’
Ga tau.
“Coba tanya Roro.” kata Ugi dari belakang. Ugi cekikikan dengan Rubby. Yang lain juga tertawa, Roro Cuma celingukan seperti bocah nyasar.
Setelah melewati sedikit tanjakan dan persimpangan akhirnya kami sampai di taman dekat kolam yang kami bicarakan. Beberapa mahasiswa terlihat tersebar di penjuru taman. Dahan-dahan pohon yang rimbun membuat suana sekitar menjadi teduh. Dengan tambahan beberapa ornamen di sana sini membuat tempat ini menjadi salah satu tujuan favorit mahasiswa yang ingin bersantai, mengerjakan tugas, atau sekedar berkumpul membicarakan hal tidak penting. Seperti mereka, dan aku tentunya. Kami memilih kursi taman yang terletak di tepi kolam, karena di situlah yang terlihat paling memungkinkan.
Ugi paling duluan sampai dan duduk di bangku taman. Disusul Roro, Nehru, aku dan yang lainnya.
Ah, panas.”
“Gerah.” sambut Rea
Tuh kan, coba tadi ke jembatan merah, pasti kulitmu gosong, Re”
“Tapi kalo Nehru emang udah item.” Ugi terus menggoda Nehru.
Nehru diam saja.
“Ada kopi dingin gak di sana?” tanya Nehru. Aku menoleh ke kantin.
Apaan?
Abis ngopi biasanya bikin adem kepala yang pusing”
“Dasar pecandu”
“Duh, batere hapeku rada bocor, udah lowbat aja.” ujar Ugi.
“Coba direndem air kopi Gi, tapi jangan pake gula.”
“Emang bisa?”
“Kalo belum gembung masih bisa” sahut Nehru seenaknya.
Sementara itu Ozie dan Rea lebih memilih foto-foto alay di tepi kolam. Sedangkan Rubby dan Roro ngelamunin sesuatu. Mungkin Rubby ketularan si Roro.
“Kamu nggak pernah baca sih, ya kan Jess?” tanya Nehru, matanya kirinya berkedip. Ah, aku tahu.
“Beneran Jess?” tanya Ugi
“Kafein memang bermanfaat, Gi,” ujarku mantap dengan jempo mengacung. “Aku pernah liat sih artikel-artikel kaya gitu, tapi belum pernah nyoba.” Ugi mengernyit. Ia terlihat mulai terperdaya. Aku jadi ngerasa bersalah. Tapi rasa isengku malah menjadi-jadi,
“Coba Gi, siapa tau bisa.” imbuhku, amat meyakinkan. Maafin aku ya, Gi.

Tidak lama berselang kami mulai lapar. Kami memutuskan untuk berpisah. Rubby, Ozie dan Rea lebih dulu pergi. Kemudian Aku pun pulang ke kos, sebelum itu kuajak Roro sekalian makan di warung Bu Emi. Sementara Nehru dan Ugi terlihat masih membicarakan sesuatu. Pohon akasia yang berada tak jauh dari mereka terlihat iri pada obrolan mereka.

Seminggu kemudian aku mendengar kabar kalau Ugi membeli hape baru. Ugi, maafin aku.

* * *

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Postcard From Omelas-Pt.2

Haloo... This is my second postcard . Aku mau lanjutin cerita yang kemaren . Jadi, kesan pertama nyampe tempat itu, dingin. Dingin banget. Selama dua minggu aku mandi cuma sekali sehari, sore doang . Kalo lagi kegiatan nyemplung ke kali, siangnya mandi trus nggak mandi lagi sampe besok sore, haha. Bisa pake air anget, but I'm too lazy, thats the problem.   Dan kesan pertama tinggal bareng teman-teman baru itu seru, dan satu hal yang baru aku sadar, ternyata mereka juga nggak terlalu jago ngomong inggrisnya, tapi karena dari awal aku udah ngerasa terintimidasi duluan, jadilah aku kerepotan kalo ngomong sama mereka. Tapi setelah terbiasa, dan kebetulan aku sekelompok sama dua orang dari mereka,untuk tugas harian   jadi mau nggak mau aku harus terbiasa ngomong . Tapi percayalah, english is just a language, not a measure of intelligence. Pas lagi ngomong kita bisa stop dulu, buka   google translate , kalo kita nggak tau kata-katanya, atau kalo nggak ada kuota, k...

Masa Lalu

Friday, 21 nd Februry 2017 ; 3:00 PM, Pekanbaru Hi, guys. Lets take a break and having some cup of coffe cause im in good mood to tell you something. So overwhelming. The story begin from a night to remember . Semalaman aku berpikir apa itu masa lalu. Ya aku tau, masa lalu adalah masa yang telah terlewati. Jaraknya sangat jauh. Tak peduli secepat apapun kendaraanmu tak akan mampu ia membawamu kembali ke masa lalu. Ia terlampau. Terlewati. Tergerus waktu. Dan termakan zaman. Tapi coba ingat kembali, walau sudah jauh terlampau sebagian dari mereka masih terasa nyata di kepala dan hati kita. Kadang kenangan dengan segelas kopi panas mampu membangkitkan ingatan ketika menghirup aroma kopi yang sama. Atau kenangan dengan alunan musik seolah mampu membawa kita kembali ke masa lalu ketika mendengar musik yang sama. Tak   jarang beberapa manusia menghindari jenis bau-bauan atau musik tertentu untuk menghindari sakit yang kembali muncul dari masa lalu. Tapi yang masih paling aj...

Sekarang Semua Sudah Jauh

Aku, Sandi, dan Huda. iya, kami wisuda ga sama Pernah dulu suatu ketika kami dekat, sangat dekat, tapi naluri manusia akhirnya mengkelompokkan setiap golongan manusia itu untuk memilih jalan hidupnya masing-masing sesuai "keinginan". kayanya kalo di bilang cita-cita udah basi ya untuk manusia umur 25 tahun? Hahaha.. Aku pengen jadi pilot tapi kuliah kami di pertanian, oke , we drove plant . Dari yang dulunya deket banget , kaya misal kalo pergi makan di tempat biasa sendiri pasti ditanya sama kakak nya “yang satu lagi mana?”. Tapi sekarang warung makan nya tutup. Dibongkar malah. Aku kehilangan tempat makan siang, pusing mau makan di mana lagi kalo kakak itu ga jualan lagi. Rada sedih juga hampir 6 tahun ke situ mulu . Nasi ayam semur sama es teh manis porsi nasi single . Kalo Sandi pesen nasi double lauk gonti-ganti . Tapi ga gemuk juga. Mungkin aku melihara kucing, dia melihara cacing kremi. Dari sedeket itu sekarang gak ada lagi jajan gorengn bareng, maen inter...