Sub Tittle : "Dikeloni Syetan*
Kisah ini nyata. Bener-benar kualami. Bukannya terjadi di tempat tidurku, tapi di surau. Kupilih kata "dikeloni" karena dikeloni beda dengan dipeluk. Karena itu, berkelonan sudah tentu berbeda dengan berpelukan.
Diceritakan secara eksklusif buat "Pos Ronda Kotoraja" (@mbah_bagio)
Alkisah. Sekitar tiga pekan yang lalu, tepat malam Jumat terjadi hujan lebat sejak sebelum maghrib. Bahkan hingga azan isya' bergema hujan gak mau reda. Cuaca dinginnya bener2 bikin merinding. Dengan bersenjata payung aku tiba juga di surau.
Selesai sholat berjama'ah hujan masih gak reda juga. Sebagian jama'ah nekat pulang menerobos hujan. Sebagian duduk2 ngobrol.
"Sholat ba'diyah dulu, ah", pikirku.
Sedang sholat itulah. Ketika dingin terasa kian menjadi-jadi. Aku mendengar ada suara. Khusyu'ku jadi terbagi dua. Sebagian menyimak bacaan sholatku dan sebagian lagi menyimak suara itu.
Ohhh... ada dua suara. Suara pertama bicara tentang hal2 yang berkaitan dengan ibadah. Suara yang satu lagi menanggapinya.
Yang pertama itu suara tetanggaku. Pensiunan dini sopir truk. Akibat hernia, gak tamat sekolah.
Suara yang kedua itu suara Pak Imam.
Ohoo, aku kenal dua suara itu. Aku masih sedang dalam "perjalanan" sholat sunnah.
Pak Sopir (mantan) itu bicara tentang agama.
"Aku masih sholat ni", pikirku dalam hati.
Dia itu pasti yang akan diomongkannya tentang yang bid'ah-bid'ah. Aku bisa nebak begitu karena dia biasanya setiap selesai salam gak betah duduk lama2 di tempat sholatnya. Sulitlah berharap bisa melihat dia ikut doa bersama imam apalagi bersalam-salaman sesama jamaah.
*Apalagi sholat sunah ba'diyah, nol". Pikirku lagi.
Padahal malaikat itu akan terus mendo'akan sesorang yang sholat di masjid sampai selesai sholat hingga dia bangkit beranjak dari posisi duduk sholatnya.
"Aha, dia gak NU."_
Ini aku masih sedang sholat ni.
Aku mikir lagi. Bahwa dia itu tontonannya siaran TV yang banyak acara pengajiannya. Dan beberapa tokoh NU yang kukenal memang terang2an mengatakan tidak suka dengan chanel TV yang satu ini.
Aku pernah melihat Pak Sopir nonton chanel TV itu sekali.
Hanya sekali.
"Hmmm.. Kalau ini benang merahnya aku sudah punya segudang argumen unt mematahkan semua bualannya. Counter attack.
Aku agak tenang. Sholatku mulai fokus lagi.
Lalu...
Tiba-tiba...
Pak Imam itu menanyakan siapa2 saja jamaah yang rutin sholat di surau. Nampaknya Pak Imam beberapa hari belakangan gak aktif di surau. Sampailah Pak Imam pun bertanya bagaimana kondisi jamaahnya pada saat sholat subuh.
Cuitan Pak sopir itu membahana lagi.
Katanya: "Yg rajin sholat 5 waktu di surau ini adalah Si A, Si B dan Si C".
(Waduh... namaku tidak disebutnya. _Ya iya lah,_ aku memang tidak termasuk dlm jajaran eselon elit ini).
"Allaahu akbar" Aku bangkit dari sujud terakhirku. Last lap.
Pak Sopir melanjutkan cuitannya; "Kalau Pak Si D itu..."Ah, aku yakin dia bakalan gak menyebut namaku lg.
"...Si D itu lebih rajin lg. Cuaca kayak apa pun dia tetap hadir di surau...!"
"Attaahiyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatulillaah..."
"Tapi ya..." Dia kini terdengar agak membanggakan dirinya. Dia melanjutkan, "Ya, sering juga saya azan sendiri, iqomat sendiri dan jadi imam sendiri".
"Semuanya saya borong", lanjutnya lagi.
Aku menutup sholatku dengan salam.
Cuitan itu bersambung lagi: "Subuh ini yang berat, Pak. Saya bahkan pasang alarm sampai dua kali. Jam 4 dan jam setengah 5. Awalnya memang berat bangun subuh itu. Tapi kalau dipaksakan ya lama2 jadi terbiasa".
Aku sudah mengambil posisi duduk manis buat nimbrung pada obrolan mereka.
Lanjut ke cuitan Pak Sopir...
"Saya pernah nonton Ustad yg di TV itu bilang: kalau kita tidak bisa bangun subuh berarti kita dikeloni syetan".
Dikeloni syetan...!!!
Mendengar itu aku merasakan seolah tugu monas meledak di depan hidungku. Aku kan sangat jarang sholat subuh di surau. Sangat jarang sekali!
"Duuuaaaarrrrrrrr.....!!!"(Ah, meledaknya telat.)
Aku merasa telah dikalahkan telak oleh Pak Sopir. Dia telah menyarangkan hattrick gol ke gawang peciku.
Semua referensi argumen yang kukoleksi selama sholat ba'diyah tadi jadi meleleh terbawa air hujan. Soal wawasan agama aku boleh lah. Mosok sarjana kalah sama alumni sopir truk. Tapi urusan bangun subuh, ehm..
"Ehm..."
"Berarti... selama ini aku selalu dikeloni syetan."
"Ehm...."
"Ehmmm....."
Hujan belum juga reda.
Aku segera pulang saja.
Mengeloni payung.
Ehm...
Alhamdulillah. Sejak kejadian di surau itu hingga kini kalau tiba waktu subuh..
Aku....
Masih saja dikeloni syetan.
Syetan betul...!!!
Ehm...
.....
hari telah jumat
orang-orang menata wafat
tapi sedikit sekali pelafal hajat
mungkin ini tanda matinya hasrat
tuju jalan ke akhirat
hidup yang hakikat
.....
T.A.M.A.T.
Jumat ketiga di Bulan Rajab 1438 H.
Kisah ini nyata. Bener-benar kualami. Bukannya terjadi di tempat tidurku, tapi di surau. Kupilih kata "dikeloni" karena dikeloni beda dengan dipeluk. Karena itu, berkelonan sudah tentu berbeda dengan berpelukan.
Diceritakan secara eksklusif buat "Pos Ronda Kotoraja" (@mbah_bagio)
Alkisah. Sekitar tiga pekan yang lalu, tepat malam Jumat terjadi hujan lebat sejak sebelum maghrib. Bahkan hingga azan isya' bergema hujan gak mau reda. Cuaca dinginnya bener2 bikin merinding. Dengan bersenjata payung aku tiba juga di surau.
Selesai sholat berjama'ah hujan masih gak reda juga. Sebagian jama'ah nekat pulang menerobos hujan. Sebagian duduk2 ngobrol.
"Sholat ba'diyah dulu, ah", pikirku.
Sedang sholat itulah. Ketika dingin terasa kian menjadi-jadi. Aku mendengar ada suara. Khusyu'ku jadi terbagi dua. Sebagian menyimak bacaan sholatku dan sebagian lagi menyimak suara itu.
Ohhh... ada dua suara. Suara pertama bicara tentang hal2 yang berkaitan dengan ibadah. Suara yang satu lagi menanggapinya.
Yang pertama itu suara tetanggaku. Pensiunan dini sopir truk. Akibat hernia, gak tamat sekolah.
Suara yang kedua itu suara Pak Imam.
Ohoo, aku kenal dua suara itu. Aku masih sedang dalam "perjalanan" sholat sunnah.
Pak Sopir (mantan) itu bicara tentang agama.
"Aku masih sholat ni", pikirku dalam hati.
Dia itu pasti yang akan diomongkannya tentang yang bid'ah-bid'ah. Aku bisa nebak begitu karena dia biasanya setiap selesai salam gak betah duduk lama2 di tempat sholatnya. Sulitlah berharap bisa melihat dia ikut doa bersama imam apalagi bersalam-salaman sesama jamaah.
*Apalagi sholat sunah ba'diyah, nol". Pikirku lagi.
Padahal malaikat itu akan terus mendo'akan sesorang yang sholat di masjid sampai selesai sholat hingga dia bangkit beranjak dari posisi duduk sholatnya.
"Aha, dia gak NU."_
Ini aku masih sedang sholat ni.
Aku mikir lagi. Bahwa dia itu tontonannya siaran TV yang banyak acara pengajiannya. Dan beberapa tokoh NU yang kukenal memang terang2an mengatakan tidak suka dengan chanel TV yang satu ini.
Aku pernah melihat Pak Sopir nonton chanel TV itu sekali.
Hanya sekali.
"Hmmm.. Kalau ini benang merahnya aku sudah punya segudang argumen unt mematahkan semua bualannya. Counter attack.
Aku agak tenang. Sholatku mulai fokus lagi.
Lalu...
Tiba-tiba...
Pak Imam itu menanyakan siapa2 saja jamaah yang rutin sholat di surau. Nampaknya Pak Imam beberapa hari belakangan gak aktif di surau. Sampailah Pak Imam pun bertanya bagaimana kondisi jamaahnya pada saat sholat subuh.
Cuitan Pak sopir itu membahana lagi.
Katanya: "Yg rajin sholat 5 waktu di surau ini adalah Si A, Si B dan Si C".
(Waduh... namaku tidak disebutnya. _Ya iya lah,_ aku memang tidak termasuk dlm jajaran eselon elit ini).
"Allaahu akbar" Aku bangkit dari sujud terakhirku. Last lap.
Pak Sopir melanjutkan cuitannya; "Kalau Pak Si D itu..."Ah, aku yakin dia bakalan gak menyebut namaku lg.
"...Si D itu lebih rajin lg. Cuaca kayak apa pun dia tetap hadir di surau...!"
"Attaahiyaatul mubaarakaatush sholawaatuth thoyyibaatulillaah..."
"Tapi ya..." Dia kini terdengar agak membanggakan dirinya. Dia melanjutkan, "Ya, sering juga saya azan sendiri, iqomat sendiri dan jadi imam sendiri".
"Semuanya saya borong", lanjutnya lagi.
Aku menutup sholatku dengan salam.
Cuitan itu bersambung lagi: "Subuh ini yang berat, Pak. Saya bahkan pasang alarm sampai dua kali. Jam 4 dan jam setengah 5. Awalnya memang berat bangun subuh itu. Tapi kalau dipaksakan ya lama2 jadi terbiasa".
Aku sudah mengambil posisi duduk manis buat nimbrung pada obrolan mereka.
Lanjut ke cuitan Pak Sopir...
"Saya pernah nonton Ustad yg di TV itu bilang: kalau kita tidak bisa bangun subuh berarti kita dikeloni syetan".
Dikeloni syetan...!!!
Mendengar itu aku merasakan seolah tugu monas meledak di depan hidungku. Aku kan sangat jarang sholat subuh di surau. Sangat jarang sekali!
"Duuuaaaarrrrrrrr.....!!!"(Ah, meledaknya telat.)
Aku merasa telah dikalahkan telak oleh Pak Sopir. Dia telah menyarangkan hattrick gol ke gawang peciku.
Semua referensi argumen yang kukoleksi selama sholat ba'diyah tadi jadi meleleh terbawa air hujan. Soal wawasan agama aku boleh lah. Mosok sarjana kalah sama alumni sopir truk. Tapi urusan bangun subuh, ehm..
"Ehm..."
"Berarti... selama ini aku selalu dikeloni syetan."
"Ehm...."
"Ehmmm....."
Hujan belum juga reda.
Aku segera pulang saja.
Mengeloni payung.
Ehm...
Alhamdulillah. Sejak kejadian di surau itu hingga kini kalau tiba waktu subuh..
Aku....
Masih saja dikeloni syetan.
Syetan betul...!!!
Ehm...
.....
hari telah jumat
orang-orang menata wafat
tapi sedikit sekali pelafal hajat
mungkin ini tanda matinya hasrat
tuju jalan ke akhirat
hidup yang hakikat
.....
T.A.M.A.T.
Jumat ketiga di Bulan Rajab 1438 H.
makannya kalo shalat jangan sambil mikir argumen mbah
BalasHapushahahahaha
bukan salah pikiran, tapi salah telinga yg kepo...hehehe
Hapus