Ada yang bilang kalau introvert itu adalah orang-orang terbuang. Orang-orang
yang akan tertinggal. Aku setuju dengan pendapat tersebut, sekaligus tidak
setuju karena aku juga seorang introvert.
Aku pernah tinggal bersama
seseorang yang lebih introvert dariku. Bisa dibilang,
ia adalah seorang anti sosial.
Kasus #1
Suatu pagi terdengar ada
keributan dari luar. Sepertinya rumah petak nomor 04 habis kamasukan maling.
Para tetangga langsung berkumpul di depan rumah yang kemalingan. Kupikir aku
tidak ingin tidurku terganggu, jadi aku bertanya kepada teman sekamarku apa
yang terjadi di luar. Kulihat dia beranjak dari tempatnya, by the way dari tadi dia sedang menonton film dari leptop nya. Ia menuju jendela
kamar,membuka sedikit tirainya, mengintip sebentar, dengan bergumam ia seperti
mengatakan sesuatu seperti, “Rumah sebelah kemalingan”, lalu kembali ke
posisinya, menonton film di leptop, seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan aku
jadi terbangun karena takut kos kami juga suatu hari bisa kemalingan.
Kasus #2
Suatu hari aku dan teman-teman di
kos memutuskan untuk memasak sesuatu di hari libur. Setelah menyiapkan seluruh
bahan yang dibutuhkan kami langsung mengeksekusinya menggunakan resep rahasia
turun temurun tujuh turunan dari gugel.
Tak lama masakan telah siap, kami pun makan bersama, kecuali teman sekamarku.
Mungkin dia menunggu kami selesai makan lalu ia akan keluar kamar untuk makan,
kami pikir mungkin begitu. Mungkin. Setengah jam kemudian kami sudah kembali ke
tempat masing-masing. Kulihat teman sekamarku menuju dapur. Cukup lama ia berada
di dapur, dengan sedikit penasaran akhirnya aku ikut pergi ke dapur, sekalian
kalau ditanya aku akan beralasan ingin ke kamar mandi. Namun apa yang kulihat
diluar dugaan. Teman sekamarku sedang memakan mi rebus yang dimasaknya
sendiri. Aku berpikiran positif, mungkin dia lagi pingin makan mie.
Kasus #3
Suatu hari aku sangat malas untuk
melakukan aktivitas. Aku terlalu malas untuk bangun, aku juga terlalu malas untuk
beranjak dari tempat tidur dan aku malas untuk melakukan apapun. Begitu juga
dengan teman sekamarku. Dia masih asyik dengan nonton film di leptopnya. Aku melirik jam di handphone,
09.05 pm. Sudah lewat jam sarapan, aku bisa melewatkannya kali ini. Aku melirik
ke teman sekamarku. Ia terlihat sangat konsisten. Ia tampak selalu bisa menahan
lapar. Namun sudah beberapa hari dia selalu memiliki kecendrungan nitip minta
belikan nasi kalau aku pergi keluar. Ah, entah kenapa hari itu aku ingin kami
bergantian, dia pergi keluar dan aku yang menitip sesuatu padanya. Tapi sejauh
ini dia terlihat begitu konsisten dan bergeming. Beberapa saat kemudian aku
mulai tidak tahan, aku malas untuk bangun tetapi juga amat lapar. Akhirnya
begitu jam menunjukkan jam 12 pas aku menyerah. Aku bangun dan kulihat teman
sekamarku masih kokoh di posisi menonton film di leptopnya. “Mau titip sesuatu?’ tanyaku. Dia menoleh padaku sambil
menggeleng. Dengan perasaan sedikit bingung bercampur lapar aku pergi ke warung
bu emi. Setelah selesai makan aku pulang dengan rasa khawatir, karena teman
sekamarku terlihat menyedihkan, apakah dia memutuskan untuk berpuasa? Tak lama
kemudian aku sampai di kos, kulihat teman sekamarku tengah menyantap mi rebus kesukaannya.
Kasus #4
Kali ini ceritanya agak
menyedihkan. Sebelum mendapatkan rumah kos yang bagus, kami pernah tinggal di
kos yang memiliki banyak kamar. Rumah kos tersebut memiliki kamar yang tersebar
di beberapa lorong. Saat itu kamar “teman sekamar” ku agak berjauhan dengan
kamarku. Jadi terkadang aku menghabiskan waktu di kamarnya atau dia yang
berkunjung ke kamarku. Berbeda dengan kamarnya yang letaknya jauh, kamarku
dekat dengan beberapa teman yang lain. Sehingga “teman sekamar” ku yang lebih
banyak menghabiskan waktu mengunjungi kamarku. (Ngerti?, red) Suatu hari dia terlalu lama berada di kamarku. Saat
itu banyak dari kami yang libur, sehingga kamarku cukup ramai. Tak lama ia mengatakan bahwa ia lupa mengunci
pintu kamarnya lalu pergi sebentar untuk mengecek kamarnya. Benar saja, leptopnya hilang. Kami pun panik. Tapi
sampai sekarang kami tidak tau siapa yang menambilnya. Beberapa hari kemudian,
teman kami yang lain datang ke kos kami, lalu mengajak teman sekamarku ke suatu
tempat. Beberapa saat kemudian dia kembali. “aku diajak ke rumah temannya yang
katanya dukun”, mendengar teman sekamarku mengatakan itu membuat kami tertarik
dengan apa yang baru saja terjadi. Katanya Ia diberi gelas yang berisi air. Ia
diminta untuk melihat wajah seseorang dari dalam gelas tersebut. Padahal teman
sekamarku tahu, bahwa di bawah gelasnya telah ditaruh foto seseorang. Setelah
mengatakan itu dia kembali ke kamarnya seolah tidak terjadi apa-apa. Kami jadi
khawatir. Sekitar setengan jam ia berada di kamar. Aku tidak tahan untuk tidak
melihatnya, bagaimana kalau dia melakukan suatu hal yang bodoh? Maka aku pun bergegas menuju ke kamarnya. Kulihat
ia tengah menikmati mie rebus kesukaannya.
Terakhir, walaupun teman sekamarku seorang introvert, pada
akhirnya dia sudah menikah. Selamat. :D
dua hal yang aku tangkep dr temen si ator,,,
BalasHapus1. suka nonoton film. aku yakin drama korea #nontonya berjam jam
2. suka makan mie. ntah ngirit atau emang hobby gak tau deh. pesen aku sih jangan kebayakn makan mie
Makasih Mbak Dian atas komentarnya.
HapusAku tanggapin yah, untuk poin 1 aku setuju, yang kedua juga setuju.
Terakhir, mau aku kenalin ke "teman sekamar"? :V